Minggu, 03 Juni 2012

Analisis Bangunan Berdasarkan Fungsi Arsitektur “Building Task”



Gb. Jineng/Klumpu Tradisional Desa Bayung Gede,  Kec. Kintamani, Kab. Bangli
Sumber gambar : http://baliluwih.blogspot
Hasil Analisis Berdasarkan Fungsi Arsitektur “Building Task”
1.      Dari segi Artistik Form :
Bahan baku bangunan jineng sebagian besar menggunakan bahan baku dari kayu. Arsitektur bangunan jineng nampak terlihat indah pada bagian atap yang terbuat dari batang bambu, dipasang secara vertikal dan potongan-potongan bambu  tersebut dipotong meruncing simetris dengan ukuran yang sama disusun berjajar semakin atas semakin meruncing mirib bentuk piramida. Selain itu pada bagian badan jineng dibangun atas tiang-tiang penyangga yang disusun rapi dengan dinding yang terbuat dari triplek. Secara umum bentuk tipologi jineng menyerupai rumah panggung dengan jumlah tiang sebagai kaki penyangga sebanyak empat buah.
2.      Dari segi Container          :
Fungsi jineng secara umum pada masyarakat Bali adalah sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen berupa padi dan biji-bijian yang diletakkan pada bagian atap, maka dari itu atap jineng dibuat besar dan terdapat ruangan di dalamnya, biasanya digunakan alat bantu tangga untuk mencapai atap, yang dibuat terpisah dan ada pula yang menyatu dengan bangunan jineng. Bagian badan jineng berbentuk segi empat seperti bale bengong yang difungsikan sebagai tempat bersantai bagi pemilik rumah.
3.      Dari segi Climatic Modifier :
Bangunan jineng yang terdapat di Desa Bayung Gede terletak pada daerah dingin, penggunaan kayu merupakan bahan baku alami yang mudah di dapatkan disekitar desa, selain itu penggunaan kayu ini juga bermanfaat karena suhu yang dihasilkan akan lebih hangat sehingga hasil panen dapat terlindungi dari cuaca dan iklim buruk, penataan atap yang dipasang secara rapat juga berfungsi agar binatang pengerat yang berusaha memakan hasil panen tidak dapat masuk ke atap tempat penyimpanan hasil panen. Bagian badan yang seperti bale bengong dibuat terbuka agar pemilik rumah dapat bersantai bersama dengan keluarganya dimana angin akan dapat terasa sejuk bagi orang-orang yang sedang beristirahat di jineng.
4.      Dari segi Environmental Filter :
Pengunaan bahan baku dari kayu dan bambu juga disesuaikan berdasarkan tanaman yang mudah ditemukan di sekitar daerah Bayung Gede, selain itu penggunaan kayu juga merupakan aspek pelestarian yang dijaga penggunaannya oleh masyarakat setempat dan memberikan daya tarik bagi orang di luar Desa Bayung Gede yang juga merupakan ciri khas bangunan jinengnya dengan atap yang terbuat dari Bambu.
5.      Dari segi Cultural Symbolization :
Simbol budaya pada bangunan jineng dapat dilihat dari bentuk arsitektur bangunan dan bahan baku bangunan maupun atapnya. Pengunaan jineng sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen merupakan kebudayaan asli masyarakat Bali dengan penduduknya yang bermata pencaharian sebagai petani. Bahan baku bambu juga melimpah banyak didapatkan di sekitar daerah Bangli sehingga merupakan ciri khas budaya dengan menggunakan atap dari bahan bambu. Sebagai contoh daerah lain di Bangli yang bangunan atapnya terbuat dari bambu adalah di Desa Penglipuran.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar